jump to navigation

BAHASA INGGRIS UNTUK SEKOLAH DASAR: Mau Ke Mana?*) February 26, 2011

Posted by madesujana in Article on ELT.
trackback
I Made Sujana**)

FKIP Univesitas Mataram

Luh Sri Narasintawati***)

SLTP 14 Mataram

 

 

Abstrak. Belajar bahasa Inggris pada usia anak-anak memiliki keunggulan baik secara biologis maupun secara psikologis. Berangkat dari keunggulan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 menetapkan bahasa Inggris sebagai muatan lokal yang mulai diajarkan di kelas 4 sekolah dasar. Dalam hampir 10 tahun pelaksanaannya, pengajaran bahasa Inggris masih banyak menyisakan permasalahan yang memerlukan penanganan yang lebih serius. Tulisan ini membahas tentang keunggulan tentang pengajaran bahasa Inggris pada usia anak-anak dan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar.

Kata-kata kunci: masa kritis, faktor usia, belajar bahasa, usia anak-anak, MULOK bahasa Inggris

Abstract. Learning English in early ages has advantages from both biological and psychological point of view. Based on those advantages, Indonesian government through 1994’s Primary School Curriculum has introduced English as “local content”, starting from grade four at primary school. In ten years of its application, English in primary school still has a number of problems that need solutions. This article discusses the advantages of teaching English at early ages and possible problems in its application at primary schools.

 

Keywords: critical period, age factor, learning language, early age, local content.

 

 

A. PENDAHULUAN

Kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia telah membuat para pengambil kebijakan untuk selalu mengadakan perubahan. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah dengan mulai memperkenalkan bahasa Inggris pada usia lebih awal yaitu mulai kelas 4 Sekolah Dasar, walaupun masih sebatas muatan lokal dalam Kurikulum Pendidikan Dasar 1994. Tujuan utama pengenalan bahasa Inggris pada usia lebih awal antara lain untuk memperbaiki kualitas output dan pemberian input lebih banyak (Huda, 1999; Sutarsyah 2004). Dasar pemikiran yang mendasari perubahan ini adalah bahwa belajar bahasa pada anak memiliki beberapa keunggulan. Faktor usia mulai belajar bahasa (age of onset/AO) merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar bahasa. Belajar bahasa akan memperoleh kesempurnaan kalau mulai pada usia sebelum pubertas karena pada usia ini secara biologis otak memiliki tingkat elastisitas yang tinggi yang memungkinkan seseorang belajar bahasa lebih cepat (Lennerberg dalam Sujana, 2001; Khrasen dalam Sutarsyah, 2004). Disamping itu belajar bahasa pada masa anak-anak akan lebih berhasil karena secara psikologis anak-anak terbebas dari rasa malu dan rasa takut salah seperti yang dialami pembelajar bahasa dewasa.

Nampaknya berangkat dari keunggulan ini Pemerintah Indonesia melalui Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 mulai memperkenalkan bahasa Inggris pada usia lebih dini yaitu mulai kelas IV Sekolah Dasar (pada usia 10 tahun). Walaupun sebagai muatan lokal, sekolah dan para orang tua sangat antusias menyambut ide pemberian bahasa Inggris lebih awal. Ini terbukti dengan banyaknya SD yang mulai memberikan bahasa Inggris sebagai muatan lokal (lihat Kismadi, 2004; Luciana, 2004, Sutarsyah, 2004) walaupun dalam pelaksanaanya sekolah banyak menghadapi kendala seperti kesiapan silabus, materi, guru, metode pengajaran dan lain-lain.

Tetapi yang perlu disadari oleh pembuat kebijakan dan praktisi di lapangan adalah bahwa belajar bahasa kedua secara natural (akuisisi) berbeda dengan belajar bahasa secara formal (learning) dalam banyak hal. Kesempurnaan berbahasa relatif lebih mudah dicapai dalam konteks informal (natural) karena banyaknya aspek pendukung seperti setting, modelling, kesempatan menggunakan bahasa, serta keinginan untuk menyampaikan suatu pesan (kebutuhan untuk berkomunikasi). Dengan kata lain, keunggulan yang disebutkan di atas tidak akan banyak memberikan kontribusi kalau program pengajaran tidak dirancang secara cermat. Dalam hal ini, faktor guru, materi, fasilitas, setting belajar sangat berperan dalam pencapaian kesempurnaan berbahasa dan harus disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran pada usia anak-anak. Kesalahan pengucapan kata, misalnya, akan berpengaruh besar terhadap perkembangan berbahasa anak dan kesalahannya cenderung menfosil (fossilized) sehingga sulit dirubah pada level berikutnya.

Berangkat dari opini di atas, tulisan ini akan mencoba memaparkan tentang faktor usia dalam belajar bahasa (kedua/asing) dari sudut psikolinguistik dan tentang permasalahan yang mungkin muncul dalam pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar di Mataram khususnya.

 

B.     PEMBAHASAN

1. FAKTOR USIA DALAM BELAJAR BAHASA

Bahwa ada masa kritis (critical period) belajar bahasa yang diluncurkan oleh Lenneberg tahun 1967 (Sujana, 2001) telah memprovokasi para ahli baik di bidang pengajaran bahasa, psikologi, maupun biologi/kedokteran untuk mengadakan eksperimen untuk membuktikan keberadaan faktor usia dalam belajar bahasa. Menurut Lenneberg, kapasitas belajar bahasa pertama akan hilang kalau tidak diaktifkan atau dilatih pada masa kritis (critical period) yang berkisar antara usia 2 sampai 13 tahun. Hipotesa ini kemudian berkembang menjadi dua kubu/versi yaitu aliran “keras” dan aliran “lemah”. Pengikut aliran keras meyakini bahwa belajar bahasa harus dimulai sebelum pubertas kalau tidak seseorang tidak akan pernah menguasai bahasa. Pengikut aliran lemah berpendapat bahwa belajar bahasa setelah pubertas masih mungkin tapi agak sulit dan tidak bisa mencapai kesempurnaan (Curtiss dalam Long, 1990).

Alasan yang disampaikan Lenneberg dalam mendukung hipotesanya antara lain (i) lateralisasi bahasa terjadi pada usia pubertas dan otak sebelah kiri tidak lagi bisa menguasai bahasa setelah pubertas; dan (ii) orang yang mengalami gangguan otak pada usia sebelum pubertas masih bisa menguasai bahasa pertama secara sempurna sedangkan orang mengalami gangguan otak pada usia dewasa sulit menguasai bahasa pertama seperti penutur asli. Akan tetapi, ide lateralisasi yang terjadi sebelum pubertas ditentang oleh banyak ahli. Krashen (dalam Singleton, 1989), misalnya, dengan menganalisis data yang sama yang digunakan Lenneberg menyimpulkan bahwa lateralisasi bahasa terjadi pada usia sebelum lima tahun bukan sebelum pubertas. Sejak itu, para ahli mencoba mengadakan eksperimen untuk membuktikan adanya faktor usia dalam belajar bahasa dengan melibatkan berbagai responden (anak-anak, dewasa, penderita apasia, dan lain-lain). Dari eksperimen-eksperimen tersebut ada yang mendukung (misalnya Johnson & Newport, 1989, Johnson & Newport, 1991, Curtiss, 1971, Oyama, 1978, Patkowski, 1980 dalam Sujana, 2001) dan ada yang menolak (misalnya Snow & Hoefnagel Hohle, 1978, Ellis, 1985, Fledge, 1987, Genesee, 1988, Neufeld, 1979 dalam Sujana, 2001) tentang masa kritis belajar bahasa.

Akan tetapi dari analisis ulang yang dilakukan Long (1990) terhadap hasil eksperimen yang pernah dilakukan para ahli, ditemukan bahwa para ahli sepakat akan adanya faktor usia dalam belajar bahasa tetapi tidak seekstrim hipotesa Lenneberg. Seseorang bisa belajar bahasa kapan saja, akan tetapi tingkat kesempurnaan penguasaan sangat dipengaruhi oleh usia belajar bahasa (age of onset/AO). Dalam konteks belajar bahasa kedua/asing, tingkat kesempurnaan akan bisa tercapai (mendekati penutur asli) kalau belajarnya dimulai sebelum masa pubertas (sebelum usia 13 tahun). Sehingga, istilah “the younger, the better” (Long, 1990) banyak dipakai dalam konteks pembelajaran bahasa kedua/asing untuk menunjukkan bahwa kalau ingin mencapai kesempurnaan dalam belajar bahasa maka kita harus mulai pada usia sebelum masa pubertas. Sebagai pengganti istilah “critical period”, para ahli lebih suka menggunakan sensitive period hypothesis. Belajar bahasa masih mungkin pada usia dewasa, akan tetapi semakin tua belajar bahasa semakin menyusut tingkat elastisitasnya, sehingga pencapaiannya tidak bisa sempurna.

Dari sudut teori psikolinguistik dan psikologi, pembelajar bahasa pada usia anak-anak memiliki beberapa keunggulan dalam belajar bahasa antara lain:

(1)     Menurut Chomsky (dalam Sutarsyah, 2004), setiap anak memiliki piranti belajar bahasa yang disebut “Language Acquisition Device” (LAD). Piranti ini memungkinkan setiap anak (sejak lahir sampai kira-kira usia 11 tahun) menguasai bahasa apa saja. LAD ini memberikan anak sarana untuk mengolah ungkapan yang didengar dalam lingkungannya sehingga mereka dapat mengkonstruksi sistem yang mendasari ungkapan tersebut. Menurut teori ini tidak ada perbedaan antara belajar bahasa pertama dan kedua;

(2)     Dalam cricital (sensitive) period hypothesis, secara biologis otak sebelum masa pubertas memiliki tingkat elastisitas yang memungkinkan seseorang untuk belajar bahasa lebih cepat dan lebih mudah. Elastisitas ini akan menyusut sejalan dengan perkembangan usia (Lenneberg dalam Sujana, 2001; Krashen dalam Sutarsyah, 2004);

(3)     Secara psikologis, pembelajar usia anak-anak memiliki beberapa keunggulan dalam belajar bahasa. Pembelajar anak secara natural memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, memiliki partisipasi aktif, spontanitas dan fleksibel, tidak malu dan tidak takut membuat kesalahan (George dalam Sutarsyah, 2004).

Dengan demikian pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing pada usia dini merupakan langkah yang tepat. Dengan dimulainya pemberian bahasa Inggris mulai dari kelas 4 Sekolah Dasar (usia 10 tahun) akan menambah input pengajaran bahasa Inggris disamping, kalau dilaksanakan dengan tepat, akan membantu penguasaan bahasa Inggris secara sempurna.

Sebagaimana disebutkan di atas, belajar bahasa kedua dalam konteks formal berbeda dengan belajar bahasa dalam konteks natural dimana dalam belajar bahasa secara natural peran lingkungan sangat kondusif. Sehubungan dengan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar di Indonesia tingkat keberhasilan belajar bahasa akan sangat bergantung pada perencanaan pengajaran (silabus, materi) dan implementasi di lapangan seperti kemampuan guru berinteraksi di kelas, fasilitas, setting kelas. Kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan bahasa Inggris di sekolah dasar bisa bersumber dari: tujuan pembelajaran, materi, setting kelas, guru, metode.

 

2. KENDALA PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR DI KOTA MATARAM

Berdasarkan uraian di atas pengajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar (sebelum masa pubertas) memiliki beberapa keuntungan antara lain memperbanyak input dan meningkatkan kualitas penguasaan bahasa Inggris. Akan tetapi implementasi di lapangan menimbulkan berbagai permasalahan seperti penetapan tujuan pengajaran, materi yang seharusnya diberikan, tingkat kesiapan guru, fasilitas belajar, dan lain-lain.

Dengan status sebagai muatan lokal, bahasa Inggris di sekolah dasar mendapat perlakuan yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris di SMP/SMA. Sebagai mata pelajaran wajib, bahasa Inggris di SMP/SMU memiliki panduan yang jelas mulai dari perumusan tujuan pembelajaran, materi/pokok bahasan, pendekatan yang digunakan, serta alat evaluasi yang baku secara nasional (dalam Ujian Nasional). Tenaga pengajar pun memiliki kualifikasi sebagai guru bahasa Inggris dan secara intensif mendapat kesempatan untuk berdiskusi dalam satu wadah baik berupa penataran maupun diskusi (lewat MGMP) atau kegiatan pengembangan profesionalisme lainnya. Pelatihan pengembangan profesi guru bahasa Inggris SD sangat jarang dilakukan.

Di Kota Mataram pengajaran bahasa Inggris di SD mendapat sambutan positif dari semua pihak (orang tua, sekolah, Dinas Pendidikan Kota). Ini terlihat dari diberikannya bahasa Inggris di hampir semua sekolah dasar di Kota Mataram. Sebagai muatan lokal, sekolah memiliki kewenangan untuk menentukan kapan bahasa Inggris diberikan, apa materi yang digunakan, siapa yang akan mengajarkan. Beberapa sekolah mulai memberikan bahasa Inggris di kelas IV, bahkan beberapa sekolah mengajarakannya mulai dari kelas I. Kualifikasi pengajar pun sangat bervariasi dari guru kelas, mahasiswa, dan sarjana bahasa Inggris.

Mengamati pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar, di Kota Mataram khususnya, diperlukan adanya perubahan yang sangat mendasar. Pihak yang terkait perlu duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik dalam program pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sehingga program ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan kualitas ouput. Kalau tidak, pengajaran bahasa Inggris di SD justru akan memperparah kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.

Beberapa hal yang perlu direnungkan bersama-sama oleh pembuat kebijakan dan praktisi pengajaran bahasa Inggris antara lain: tujuan yang ingin dicapai dalam program pengajaran bahasa Inggris ini, materi ajar, metode pengajaran, guru, media pembelajaran dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Inggris di SD. Berikut ini diuraikan beberapa kendala yang muncul dalam pengajaran bahasa Inggris untuk sekolah dasar.

(1)   Tujuan Pembelajaran. Dengan status sebagai muatan lokal, dimana ide mata pelajaran muatan lokal adalah untuk memenuhi kebutuhan lokal suatu masyarakat, apa yang ingin dicapai dalam mata pelajaran bahasa Inggris? Apakah untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang kepariwisataan, untuk melanjutkan studi atau mempunyai tujuan yang lain? Kalau tujuan diarahkan untuk melanjutkan studi maka tujuan ini harus sejalan dengan tujuan pengajaran pada jenjang berikutnya (SMP) yaitu untuk meningkatkan kemampuan keempat keterampilan berbahasa. Kalau tujuannya untuk memenuhi kebutuhan lokal, dimana NTB menjadi salah satu tujuan wisata, maka tujuan dan materi pembelajaran diarahkan pada pengenalan kosa kata dan ungkapan berkaitan dengan kepariwisataan. Nampaknya ini terlalu dini. Atau, kalau tujuan yang ingin dicapai adalah untuk penyempurnaan penguasaan bahasa Inggris dengan memberikan mata pelajaran ini sebelum masa pubertas, maka perlu dipikirkan pengajaran yang mampu mengarahkan siswa mencapai kesempurnaan pemakaian bahasa Inggris seperti ketepatan pelafalan, unsur suprasegmental dan lain-lain. Tujuan pembelajaran ini akan dengan mudah diformulasikan kalau ada kejelasan status mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar, terutama dengan label muatan lokal ini. Nampaknya penerjemahan “muatan lokal” dalam konteks ini sebagai  semacam otonomi sekolah untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah tergantung pada kesiapan sekolah.

Tujuan jangka panjang belajar bahasa Inggris adalah supaya siswa dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan penuh percaya diri, benar dan lancar. Tetapi dalam pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak tidak perlu dipaksakan untuk mencapai target tersebut karena untuk memenuhi tujuan tersebut mereka memiliki paling sedikit 6 – 10 tahun untuk belajar. Dalam perancangan pembelajaran, perlu dipertimbangkan  skala prioritas tujuan yang disesuaikan dengan usia dan pola belajar mereka. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah peninjauan kembali tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih tinggi.

Dalam penyusunan Kurikulum 2004, Depdiknas (2004) telah menetapkan tingkat “oracy dan literacy” (kewicaraan dan keaksaraan) yang ditargetkan pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, yaitu (i) performative (mampu membaca, menulis, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan dan berkomunikasi dalam konteks yang terbatas; (ii) functional (mampu menggunakan bahasa untuk kebutuhan sehari-hari (survival) seperti membaca koran, membaca manual dll.; (iii) informational (siswa diharapkan mampu mengakses pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Inggris; dan (iv) epitesmic (pembelajar diharapkan mampu mentransformasi pengetahuan dalam bahasa yang dipelajari) (Wells dalam Depdiknas, 2004). Dengan demikian, guru atau pembuat kebijakan kurikulum hendaknya mempedomani tingkat kewicaraan dan keaksaraan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, pengajaran bahasa Inggris di SD perlu diarahkan pada pengembangan komunikasi lisan untuk tujuan interaksi kelas dan kegiatan sekolah dan sekitarnya (here and now). Bahasa tulis sedikit demi sedikit diperkenalkan dan itupun dalam konteks pengembangan bahasa lisan.

(2)   Materi. Materi bisa menimbulkan masalah yang paling sentral dengan diberlakukannya Bahasa Inggris di sekolah dasar. Pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab adalah karena ini input bahasa Inggris pertama apakah materinya akan sama dengan bahasa Inggris di SMP sekarang? Kalau sama, maka permasalahan yang akan muncul pada pengajaran pada jenjang pendidikan berikutnya (di SMP), dimana akan terjadi kelas yang siswanya sudah dapat pelajaran bahasa Inggris dan yang belum (karena status bahasa Inggris di SD sebagai pilihan). Permasalahan ini akan mengakibatkan kejenuhan pada siswa yang sudah pernah belajar bahasa Inggris. Kalau akan dipilih materi yang berbeda, apakah perbedaannya menyangkut level, skill yang ditekankan atau tema-tema yang disajikan? Ini harus ada keselarasan antara materi bahasa Inggris SD dengan materi SMP.

Yang perlu menjadi perhatian juga adalah penekanan ketrampilan dan aspek berbahasa yang ingin dikembangkan. Depdiknas (2004) mencoba membuat kontinum atau rentangan pengajaran bahasa Inggris dari jenjang pendidikan SD – SMA yang berangkat dari bahasa lisan dan semakin meningkat ke bahasa tulis. Rentangan tersebut digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

Tabel: kontinum penekanan pengajaran bahasa Inggris berdasarkan jenjang pendidikan

Bahasa Lisan

 

SD

Kelas 1 – 3

 

 

 

SD

Kelas 4 – 6

 

SMP

 

SMA

Bahasa Tulis

Depdiknas (2004)

Dari kontinum tersebut  tergambar bahwapengajaran bahasa Inggris di SD seharusnya didominasi oleh pengajaran bahasa lisan dan semakin berkurang sejalan dengan jenjang pendidikan. Bahasa Inggris di SD lebih merupakan bahasa untuk menyertai tindakan (language accompanying action) atau bahasa yang bersifat “here and now”.

(3)   Guru. Siapa yang akan mengajarkan bahasa Inggris, guru kelas atau guru mata pelajaran? Kalau guru kelas yang terlibat, maka diperlukan training yang cukup lama untuk bisa menguasai bahasa Inggris sekaligus mengajarkannya. Tingkat penguasaan guru pada bidang yang diajarkan akan berakibat fatal pada kemampuan siswa, terutama yang menyangkut pronunciation, karena ada kecendrungan kesalahan yang dibuat akan memfosil dan sulit diubah. Kalau diajarkan oleh guru bahasa Inggris, maka perlu penambahan anggaran untuk perekrutan atau kontrak. Disamping faktor biaya, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesiapan alumni LPTK Bahasa Inggris mengajarkan bahasa Inggris untuk anak-anak. Banyak yang berasumsi bahwa mengajar di SD (English for Children) tidak sulit karena materinya sangat dasar. Tetapi, terlepas dari tingkat kesulitan materi, mengajar bahasa Inggris di SD berbeda dengan mengajar di sekolah lanjutan. Masalah ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi LPTK dengan mempertimbangkan apakah pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak ini perlu menjadi bagian dari kurikulum. Kalau tidak, di mata kuliah apa akan disisipkan tentang pengajaran ini? LPTK Bahasa Inggris Universitas Lampung, misalnya, telah mengantisipasi masalah ini dengan memasukkan mata kuliah “English for Young Learners (EYL)” dalam kurikulumnya (lihat Sutarsyah, 2004).

Masalah guru ini bisa juga diatasi dengan melibatkan guru-guru Bahasa Inggris di SMP. Hal ini memungkinkan karena SD dan SMP berada pada satu payung sub-dinas (subdin). Kasubdin bisa membuat kebijakan dengan menugaskan guru bahasa Inggris SMP untuk membantu minimal sekali seminggu di SD. Pembiayaan atas kegiatan ini bisa dibebankan pada Komite Sekolah atau sumber dana lainnya.

Masalah guru tidak terhenti pada perekrutan saja, tetapi juga perlu dipikirkan tentang pengembangan profesi melalui pelatihan-pelatihan sebagaimana diberikan kepada guru-guru SMP dan SMA. Saat ini karena status mata pelajarannya sebagai muatan lokal dan kebanyakan gurunya adalah guru honor, guru-guru bahasa Inggris SD terkesan termarjinalkan.

 

(4)   Metode Pengajaran. Belajar pada usia anak harus menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pengajaran orang dewasa. Pembelajaran bahasa Inggris pada anak-anak harus mempertimbangkan karakteristik pembelajar anak-anak. Belajar sambil bermain akan mempercepat penguasaan bahasa. Sehingga dalam pengajarannya diperlukan variasi kegiatan dan sumber belajar seperti melalui lagu-lagu, permainan, cerita, dan lain-lain. Menurut Vale (1995), anak-anak dalam belajar (apa saja) membutuhkan motivasi, interest, sukses, rasa senang, rasa aman, kepercayaan diri, persahabatan, mempelajari sesuatu yang baru. Dalam pengajarannya guru seharusnya mengakomodasi kebutuhan tersebut sehingga pembelajaran bisa menyenangkan dan berhasil.

Berangkat dari karakteristik pembelajar usia anak-anak, perlu diusahakan program pengajaran yang berbeda dari pengajaran di tingkat yang lebih atas (SMP/SMA). Suasana bermain sambil belajar perlu ditonjolkan supaya suasana kelas menyenangkan dan terbebas dari rasa takut. Dengan rasa senang  siswa akan termotivasi untuk belajar. Menurut Vale (1995) hal-hal yang perlu diprioritaskan pada awal-awal pembelajaran bahasa Inggris antara lain:

  • Membangun rasa percaya diri.
  • Menanamkan pada diri anak bahwa belajar bahasa Inggris sangat menyenangkan.
  • Memotivasi dan menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris.
  • Membangun hubungan yang baik dengan teman sehingga akan tercipta suasana belajar yang kondusif.
  • Mendorong siswa untuk ekspresif, yaitu berani mengungkapkan diri dengan keterbatasan bahasa yang dimiliki (dengan alat bantu, mimik, gerak, gambar, kata kunci dan lain-lain).

 

Guru selalu dituntut untuk melakukan inovasi pengajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan dalam kondisi yang kondusif dan menyenangkan sehingga bahasa Inggris tidak lagi sebagai “momok” bagi siswa. Guru harus mampu menciptakan permainan-permainan yang mampu membuat siswa senang dalam belajar dan memperoleh sesuatu dari permainan tersebut. Kreativitas ini bisa dibangun dengan secara intens melakukan diskusi-diskusi dengan guru sejawat

(5)   Media Pengajaran dan Fasilitas Penunjang. Perbedaan pola pembelajaran bahasa pada usia anak-anak dengan orang dewasa akan membawa dampak pada program pengajaran termasuk penggunaan media pengajaran. Pembelajar anak-anak memerlukan alat peraga karena memiliki tingkat abstraksi yang terbatas. Pengajaran bahasa Inggris anak-anak memerlukan banyak gambar, permainan, realia, tape recorder, video (VCD/DVD) dan alat bantu lainnya. Penggunaan materi yang telalu tekstual akan mengurangi daya tarik dan siswa cenderung kurang termotivasi. Dalam hal ini, dituntut kreativitas guru untuk menciptakan media penunjang pengajaran yang bisa terjangkau seperti realia, gambar, dll. Sekolah dengan fasilitas memadai tentu saja bisa memanfaatkan teknologi pengajaran bahasa yang lebih canggih seperti penggunaan laboratorium, VCD/DVD, multimedia, dan media lainnya.

Mengingat banyaknya potensi masalah yang mungkin muncul dalam pengajaran bahasa Inggris di SD baik dalam perencanaan maupun implementasinya, diperlukan adanya dukungan dari semua pihak (pembuat kebijakan, kepala sekolah, komite sekolah, instansi terkait) untuk memikirkan solusi sesuai dengan porsi masing-masing.

Dalam rangka memajukan dan menggiatkan pembelajaran Bahasa Inggris di Kota Mataram terutama pada jenjang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kota bekerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggata dan Lombok TV mengadakan “English Quiz Contest”. Acara tersebut merupakan ajang untuk mengasah kemampuan anak (SD dan SMP) dalam penguasaan bidang ilmu yang dikemas dalam bahasa Inggris. Tujuan utama acara tersebut adalah memacu penggunaan bahasa Inggris serta memperkenalkan kepada siswa bahwa belajar bahasa Inggris itu menyenangkan. Selain itu, acara seperti Speech Contest dan English Debate telah menjadi agenda banyak instansi di Mataram dan NTB. Acara-acara semacam ini memiliki dampak yang sangat besar pada motivasi anak untuk belajar bahasa Inggris. Tentu saja kegiatan ini harus diimbangi dengan pembenahan proses belajar mengajar di kelas beserta piranti pengajarannya.

 

C.    PENUTUP

Pengajaran bahasa Inggris di SD memiliki keunggulan baik secara biologis maupun secara psikologis. Akan tetapi keunggulan ini tidak akan telalu bermakna kalau pelaksanaannya tidak dirancang secara tepat. Kekurangtepatan program pengajaran justru akan memperparah kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.

Program pengajaran bahasa Inggris di SD ini bisa berhasil dengan baik kalau ada niat dan keseriusan serta kerjasama semua pihak yang terlibat dalam kebijakan di SD. Para pengambil kebijakan dan praktisi di lapangan perlu duduk bersama untuk secara serius membicarakan tentang kebijakan pengajaran bahasa Inggris di SD sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Muatan lokal mungkin menjadi kebijakan sekolah tetapi harus ada rambu-rambu yang jelas tentang program pengajaran bahasa Inggris (bukan pada apa maunya sekolah). Pengajaran di kelas I SD, misalnya, perlu dipertimbangkan dari pola pengajarannya. Jangan dibebankan siswa dengan catatan bahasa Inggris (yang pengucapannya berbeda dengan tulisannya) sementara siswa sendiri sedang strunggling belajar menulis dan membaca. Ini bisa menambah beban belajar mereka.

 

REFERENSI

 

Depdiknas, 2004. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 4-6 SD dan MI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Huda, Nuril, 1999. Language Learning and Teaching: Issues and Trends. Malang: Universitas Negeri Malang.

Kismadi, Gloria C., 2004. “Start Them Early: Teaching English to Young earners in Indonesia”, dalam Cahyono, Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed.), 2004. The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indoensia. Malang: State University of Malang Press. Pp. 253 – 264.

Long, Michael, 1990. “Maturation Constarints on Language Development”, Studies in Second Language Acquisitions, 12, pp. 251 – 285.

Luciana, 2004. “Teaching and Assessing Young Learners’ English: Bridging the Gap”, Dalam Cahyono, Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed.), 2004. The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indoensia. Malang: State University of Malang Press. Pp. 265 – 280.

Singleton, D., 1989. Language Acquisition: The Age Factors. Philadelphia: Multilingual Matters Ltd.

Sujana, I Made, 2001. “Critica Period: Does it Exist in Language Acquisition?”. Jurnal Ilmu Pendidikan FKIP UNRAM, No. 50, Tahun XIV Maret 2001.

Sutarsyah, Cucu, 2004. “Designing an “English for Young Learners” Course as a Part of English Department Curriculum”, dalam Cahyono, Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed.), 2004. The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indoensia. Malang: State University of Malang Press. pp. 280 -290.

Vale, Dave, 1995. Teaching Children English. Cambridge: CUP

 

===================

Catatan:

*)   Beberapa bagian tulisan ini pernah disampaikan pada Workshop Guru-Guru Bahasa Inggris SD se-Pulau Lombok di Pusat Bahasa UNRAM atas dukungan dana P8KT DIKTI

**) Dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram dan Kordinator Pengembangan Materi UPT Pusat Bahasa UNRAM

***) Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 14 Mataram dan  banyak bergelut pada Kursus Bahasa Inggris untuk Anak-Anak (English for Children)

 

About these ads

Comments»

1. mustofasiberuk - March 24, 2012

wah good article pak…..thank dah posting.sangat bermanfaat sekali

2. mustofasiberuk - March 24, 2012

bermanfaat sekali buat saya pak thanks wat articlenya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: