jump to navigation

LESSON STUDY SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN KOMPETENSI CALON GURU DI LPTK February 26, 2011

Posted by I Made Sujana, English Department University of Mataram Lombok, Indonesia in Article on ELT.
trackback

I Made Sujana[1] & L. Sri Narasintawati[2]

FKIP UNRAM –  SMPN 14 Mataram

 

Abstrak. Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan muara dari semua proses belajar mengajar di LPTK (Wardani & Suparno, 1994). Apapun yang dilakukan dalam perkuliahan, semua itu diperuntukkan bagi peningkatan kompetensi mahasiswa sebagai calon guru yang ujicobanya dilaksanakan melalui PPL. Tetapi kenyataannya, program yang sangat sentral bagi LPTK ini belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Program Pengalaman Lapangan di FKIP Universitas Mataram cenderung pelaksanaannya semakin tidak memiliki bentuk. Tulisan ini mencoba memberikan salah satu solusi perbaikan kualitas pelaksanaan PPL dengan menggunakan pola Lesson Study. Diharapkan dengan [enerapan Lesson Study, PPL tidak sekadar formalitas magang disekolah tetapi mampu memberikan pengalaman bagi mahasiswa dalam rangka meningkatkan kualitas guru yang dihasilkan LPTK.

 

Kata-Kata Kunci: PPL. Lesson Study, kompetensi

 

Abstract. Teaching Apprenticeship Program is “estuary” of all teaching and  learning processes at Teacher Training Institutions (Wardhani & Suparno, 1994). Every program conducted at the Institutions leads to the improvement of students’ competencies to be teachers. However, at the level of implementation, the Teaching Apprenticeship Program at LPTK in general and UNRAM in particular was not run as expected. This article tries to offer solutions to improve the quality of PPL by applying Lesson Study, the application of which is expected to improve the quality of teachers in the future.

 

Keywords: Teaching Apprenticeship Program, Lesson Study, competency

 

 

I. PENDAHULUAN

Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan mata kuliah sentral di Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena program ini merupakan jembatan bagi mahasiswa LPTK sebelum menjadi guru yang sebenarnya. PPL merupakan ajang latihan mahasiswa untuk menjadi guru dan merupakan ajang untuk mempertemukan antara teori di perguruan tinggi dan praktik di lapangan (yang sering tidak berjalan dengan harmonis). Menurut Wardani & Suparno (1994), PPL bagi mahasiswa LPTK merupakan muara dari seluruh program pendidikan yang dijalani selama masa belajarnya di bangku kuliah. Ini artinya semua kegiatan yang dilakukan selama masa kuliah baik dalam bentuk tatap muka, penugasan, praktik maupun kegiatan mandiri diarahkan pada pembentukan 4 kompetensi guru (kompetensi profesional/ akademik, kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian).

 

Mengingat sentralnya peran PPL ini bagi mahasiswa LPTK, secara pengelolaan perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Berdasarkan pengamatan penulis, kegiatan PPL di FKIP Universitas Mataram masih jauh dari yang diharapkan bahkan terkesan asal jalan. Diawal berdirinya FKIP, kegiatan PPL ini dikelola oleh sebuah unit pelayanan yang disebut UPPL yang merupakan unit yang langsung di bawah kordinasi Rektorat. Pada saat ini, kegiatan PPL dilaksanakan dengan melibatkan sekolah di Kabupaten Lombok Barat (sekarang pecah menjadi Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat) dengan melibatkan dosen dari bidang studi masing-masing. Dalam perjalananya, karena kegiatan PPL Kependidikan hanya berlaku bagi mahasiswa FKIP, unit ini berubah status dari unit di bawah Rektorat  langsung ke unit pelayanan PPL di bawah FKIP. Kegiatan PPL dan persyaratan PPL juga masih mengikuti pola yang sama seperti sebelumnya.

 

Dalam hampir 30 tahun perjalanan FKIP Universitas Mataram dan LPTK lainnya di Mataram NTB sebagai penghasil guru, keberadaan PPL sebagai kegiatan yang sangat krusial dari sebuah lembaga LPTK bukannya bertambah baik tetapi justru pelaksanaannya semakin memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir muncul istilah PPL-KKN terpadu di sekolah. Kemudian tanpa ada kejelasan hasilnya apakah berhasil atau tidak, kembali pada pola PPL semula. Pola pembinaan juga sangat bervariasi yang disebabkan oleh ketidakjelasan pola pengelolaan. Dengan ketidakjelasan baik dari pelaksanaan maupun pola insentif, beberapa sekolah mulai menolak kehadiran mahasiswa PPL dengan berbagai alasan. Dilematisnya adalah mahasiswa dari perguruan tinggi negeri ditolak karena alasan mengganggu PBM justru mahasiswa dari PTS masih boleh menempatkan mahasiswanya di sekolah bersangkutan. Ada apa? Penulis lebih melihat alasan komunikasi dari jajaran fakultas dan pengelola. Bagi sekolah yang masih menerima PPL pembinaannya juga tidak bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Tidak jarang para praktikan dimanfaatkan oleh guru pamong sebagai guru pengganti (pendelegasian tugas). Ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena perguruan tinggi tidak mampu memberikan insentif yang layak bagi seorang guru pamong dan dosen pembimbing. (Bandingkan dengan dengan program PLPG Sertifikasi Guru kenapa dinanti dosennya). Adalah tugas pengelola PPL untuk menjadikan program PPL seperti kegiatan PLPG Sertifikasi Guru yang senantiasa dirindukan oleh dosen dan guru karena mampu memberikan kepuasan secara moral karena ketemu dengan praktisi di lapangan dan kepuasan material.

 

Permasalahan lain yang muncul saat ini adalah dengan diberlakukannya pembimbingan lintas program studi. Dosen Program Studi Bahasa Inggris harus membimbing mahasiswa dari non-Bahasa Inggris dan sebaliknya. Perlu disadari adalah setiap bidang ilmu memiliki karakteristik sehingga cara pengajaran pun berbeda. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, misalnya, memiliki rumpun yang sama tetapi karena kedudukannya berbeda, cara mengajarnya pun berbeda. Dosen Bahasa Inggris akan menggunakan framework pemebelajaran Bahasa Inggris untuk membimbing dan menilai mahasiswa PS Pendidikan Bahasa Indonesia dan demikian juga sebaliknya. Dengan lain kata, pembimbingan dengan sistem ini tidak akan maksimal dan tidak nyaman untuk kedua belah pihak (mahasiswa maupun dosen pembimbing).

 

Terlepas dari dimana letak permasalahannya selama ini, tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan sumbang saran terhadap pelaksanaan PPL saat ini sangat jauh dari “sempurna” dan terkesan kepedulian terhadap program ini sangat minim. Harapannya adalah pelaksanaan PPL ini lebih terprogram dan memiliki aktivitas yang jelas dan pola insentif yang layak untuk jabatan pembimbing sehingga akan berdampak pada peningkatan kualitas output yang dihasilkan dan lebih jauh lagi adalah peningkatan kualitas guru di masa mendatang. Lesson Study — yang merupakan pola pembinaan guru di Jepang dan sekarang banyak diadopsi di Indonesia — merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah pelaksanaan PPL bagi LPTK. Selanjutnya tulisan ini akan membahas sekilas tentang Lesson Study dan bagaimana Lesson Study bisa di diterapkan dalam pola peningkatan kompetensi calon guru melalui mata kuliah Micro Teaching dan Program Pengalaman Lapangan (PPL).

 

II. DISKUSI

A.    Lesson Study dalam Pengembangan Profesionalisme Guru

Kegiatan Lesson Study pertama kali dikembangkan di Jepang pada tahun 1990an yang pada awalnya bertujuan untuk mengkaji pembelajaran melalui perencanaan dan observasi bersama untuk memotivasi siswa-siswanya aktif belajar mandiri. Dalam perkembangannya Lesson Study dilaksanakan dalam berbagai bentuk dan cara dengan melibatkan antar sekolah dari wilayah kecamatan, kabupaten dll. tidak hanya melibatkan guru muda tetapi juga guru senior dan oleh pemerintah Jepang, Lesson Study ini juga menjadi bagian dari pendidikan guru  pada tahun-tahun pertama bertugas menjadi guru (Yoshida, 1999). Lesson Study bukan metode atau strategi pembelajaran tetapi merupakan suatu model pembinaan guru ke arah guru profesional. Dalam pelaksanaannya, guru dapat menerapkan berbagai metode/strategi/media pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan permasalahan yang dihadapi.

Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-rinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Hendayana, dkk., 2006; Sukirman, 2006 dalam Mahmudi, 2009)). Menurut Baba (2007 dalam Mahmudi, 2009), Lesson Study merupakan proses yang dilakukan guru yang secara progressif berusaha meningkatkan motode pembelajaran mereka dengan cara berkerjasama dengan guru lain. Sementara Friedkin (2005) mendifinisikan Lesson Study sebagai proses yang melibatkan guru-guru yang bekerjasama dalam merencanakan, mengobservasi, menganalisis, dan memperbaiki pembelajarannya. Dari definisi-definisi di atas, Lesson Study dapat diartikan sebagai kegiatan yang kolaboratif oleh sekelompok guru dalam mengembangkan diri menuju arah profesionalisme dari perencanaan sampai evaluasi dengan menerapkan prinsip saling belajar dalam suasana kolegalitas yang tinggi.

 

Lesson Study banyak mendapat perhatian oleh kalangan guru dan praktisi pendidikan karena memiliki nilai strategis dalam mengembangkan profesionalisme guru. Menurut Cerbin & Kopp (dalam Sudrajat, 2008), Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu:

1.      Memperoleh pengalaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;

2.      Memperoleh hasil-hasil tertentu yang dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study;

3.      Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inquiri kolaboratif; dan

4.      Membangun sebuah pengetahuan pedogogis, dimana seorang guru dapat menimba dari guru lainnya.

Berdasarkan hasil observasi beberapa sekolah di Jepang, Lewis (dalam Sudrajat, 2008) menyimpulkan tentang ciri-ciri pokok dari Lesson Study sebagai berikut: (1) Tujuan bersama untuk jangka panjang, yaitu dalam Lesson Study perlu ada kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin dicapai dalam jangka panjang dengan cakupan yang lebih luas; (2) Materi pelajaran yang penting, yaitu kajian dari kegiatan Lesson Study adalah terfokus pada mata pelajaran yang dianggap penting atau titik lemah atau yang dianggap sulit dalam pembelajaran siswa; (3) Studi tentang siswa secara cermat, yaitu Lesson Study berfokus pada pengembangan dan pembelajaran siswa. Dengan demikian, perhatian yang paling utama adalah tertuju pada kegiatan siswa: bagiamana interaksi siswa, kapan siswa mulai lelah, kapan mulai bergairah lagi, bagaimana siswa berinteraksi dengan siswa lain, dengan materi pelajaran, dll.; (4) Observasi pembelajaran secara langsung, yaitu kegiatan observasi merupakan jantungnya Lesson Study. Guru mengamati model secara langsung dalam pembelajaran untuk memperoleh data yang akurat, lebih utuh dan lebih mendetail. Penggunaan videotape hanya sebagai pelengkap bukan sebagai pengganti.

 

Sebagaimana disebutkan di atas, dalam perkembangannya, Lesson Study dilaksanakan dalam berbagai bentuk dan cara. Dalam referensi ditemukan tahapan-tahapan Lesson Study yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Menurut Deming (dalam Wikipedia, 2007), Lesson Study dilaksanakan dalam 4 tahapan yaitu Plan – Do – Check – Act (PDCA). Kegiatan diawali dengan PLAN, yaitu penetapan tujuan dan cara penyampaian untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dilanjutkan DO, yaitu pengimplementasian rencana di kelas, CHECK, yaitu menilai kegiatan pembelajaran dan membandingkan antara tujuan yang ditetapkan dengan pelasakanaan, dan ACT, yaitu menganalisis perbedaan-perbedaan antara pelaksanaan dan tujuan untuk menentukan sumber-sumber permasalahan. Dalam perkembangannya, Deming mengganti kata CHECK  menjadi STUDY, sehingga tahapannya PDSA.

 

Menurut Cerbin dan Kopp (dalam Sudrajat, 2008), Lesson Study melalui 6 tahapan yaitu:

(1)    Form a Team, yaitu pembentukan tim pelaksana Lesson Study yang terdiri dari guru dan pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki kepentingan;

(2)    Develop Student Learning Goals, yaitu kegiatan yang mendiskusikan tujuan pembelajaran yang dicanangkan untuk siswa sebagai hasil akhir dari Lesson Study;

(3)    Plan the Research Lesson, yaitu kegiatan guru-guru dalam merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mengantispasi kemungkinan-kemungkinan respon siswa;

(4)    Gather Evidence of Student Learning, yaitu kegiatan pelaksanaan pembelajaran dengan menunjuk satu orang sebagai model dan yang lainnya menjadi pengamat untuk mengumpulkan bukti dari siswa;

(5)     Analyze Evidence of Learning, yaitu kegiatan tim untuk mendiskusikan hasil kegiatan pembelajaran dan menilai kemajuan siswa; dan

(6)    Repeat the Process, yaitu diawali dengan kegiatan revisi pembelajaran oleh tim dan mengulang kegiatan ke-2 sampai dengan kegiatan ke-5 di atas dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

 

Dalam perkembangan pelaksanaan Lesson Study di berbagai belahan dunia termasuk berbagai proyek pengembangan profesionalisme guru di Indonesia, Lesson Study dirancang dalam 3 tahapan: Plan – Do – See (Hendayana, dkk., 2006) dengan skema sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Skema Kegiatan Lesson Study (Hendayana, dkk, 2006)

 

Kegiatan Lesson Study diawali tahap PLAN (perencanaan) yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa. Kegiatan Lesson Study berpusat pada siswa (learner-centered) sehingga perencanaan terkait dengan bagaimana supaya siswa bisa berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan guru-guru, pihak-pihak terkait (kepala sekolah, pengawas, pakar pendidikan, dan dosen) untuk memperkaya ide-ide. Sama seperti dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kegiatan perencanaan berangkat dari permasalahan yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran, yang dapat berupa materi pembelajaran, penjelasan suatu konsep, metode pembelajaran, mensiasati permasalahan media dan fasilitas pembelajaran. Selanjutnya hasil diskusi tim dituangkan dalam rancangan pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, media, dan lembar kerja siswa (LKS) dan alat evaluasi.

 

Langkah kedua dalam Lesson Study adalah DO (pelaksanaan pembelajaran) yaitu penerapan rancangan pembelajaran di sekolah yang  ditunjuk yang dilakukan oleh guru model yang telah disepakati dalam perencanaan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengujicoba efektivitas solusi (model) yang telah dirancang. Tugas guru lain dalam tim adalah sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Dalam pengamatan juga biasa melibatkan dosen dan kepala sekolah yang nantinya akan bertugas sebagai pemandu kegiatan. Biasanya sebelum pelajaran dimulai dilakukan briefing kepada pengamat untuk menginformasikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan mengingatkan etika selama pembelajaran bagi seorang pengamat. Setiap pengamat harus membekali diri dengan lembar observasi yang biasanya telah dipersiapkan sebelumnya supaya ada kesamaan aspek yang diamati. Fokus pengamatan selama kegiatan berlangsung ditujukan pada interaksi siswa-siswa, siswa-bahan pelajaran, siswa-guru, siswa-lingkungannya.

 

Langkah ketiga dalam kegiatan Lesson Study adalah SEE (refleksi). Setelah selesai kegiatan DO, semua tim keluar dari kelas dan menempati ruang diskusi. Kegiatan diskusi dipandu oleh kepala sekolah atau orang yang ditunjuk untuk membahas pembelajaran yang berlangsung. Prosedur diskusi adalah dengan memberikan kesempatan pertama kali untuk guru model menyampaikan kesan-kesannya dalam melaksanakan pembelajaran. Selanjutnya adalah kesempatan pengamat secara bergiliran menyampaikan pembelajaran yang bisa dipetik (lesson learnt) dari proses pembelajaran terutama yang terkait dengan kegiatan siswa. Kalau ada kritik dan saran diberikan oleh pengamat maka harus disampaikan secara bijak untuk tujuan perbaikan pembelajaran. Inti dari kegiatan ini adalah memetik hal-hal yang bermanfaat bagi guru untuk dapat diterapkan pada pembelajarannya masing-masing.

 

Ketiga langkah Lesson Study ini (Plan-Do-See) tampaknya banyak diadopsi dalam pengembangan profesionalisme guru di Indonesia. Dari langkah-langkah Lesson Study di atas, jelas bahwa kegiatan Lesson Study merupakan kegiatan yang sangat baik untuk dikembangkan di Indonesia. Lesson Study membawa dampak pada proses pembelajaran dan hasilnya berupa:

1.      Berbagi pengalaman dan saling belajar (mutual learning);

2.      Peningkatan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan mutu lulusan (siswa);

3.      Guru memiliki banyak kesempatan untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik pembelajarannya sehingga dapat mengubah perspektif tentang pembelajaran, dan belajar praktik pembelajaran dari perspektif siswa;

4.      Guru mudah berkonsultasi kepada pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan materi pelajaran;

5.      Perbaikan praktik pembelajaran di kelas.

6.      Peningkatan kolaborasi antarguru dan antara guru dengan pakar/dosen dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga terbentuk hubungan kolegalitas antara guru-guru, guru-dosen;

7.      Adanya pembiasaan melakukan problem-solving dan memperoleh pengalaman merencanakan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif;

8.      Peningkatan ketrampilan menulis karya tulis ilmiah atau buku ajar karena dalam pelaksanaannya guru dituntut untuk menulis LKS, media, dll. serta melaporkan kegiatannya.

 

Jika kita berbicara tentang peningkatan profesionalisme guru, maka Lesson Study inilah yang menjadi salah satu alternatif. Kegiatan ini dapat dikembangkan berbasis sekolah atau berbasis organisasi guru  seperti MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), KKG (kelompok kerja guru), dll.

 

Terkait dengan pengembangan kompetensi calon guru (mahasiswa LPTK), maka kegiatan ini dapat diadaptasi dalam pola pembinaan mata kuliah Micro Teaching dan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Sekarang tinggal memikirkan bagaimana mengadaptasi dan mengemas Lesson Study ini menjadi sebuah program pengembangan calon guru. Perlu dirancang dengan jelas mekanisme pelaksanaan dengan melibatkan guru pamong, dosen, dan mahasiswa. Kegiatan ini sejalan dengan tuntutan UURI Nomor 14 tahun 2005 tentatng Guru dan Dosen terutama Pasal 32 yang intinya berisi pembinaan dan pengembangan guru yang mencakup pembinaan dan pengembangan profesi dan karir yang meliputi pengembangan keempat kompetensi guru (kompetensi profesional, kompetensi pedagogis, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian). Demikian juga pada Pasal 19 PPRI Nomor 19 tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan  (SNP) terkait tuntutan proses pembelajaran bahwa proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi, peserta didik. Untuk dapat melakukan semua itu, Lesson Study dapat menjadi salah satu alternatif.

 

Berikut ini akan dibahas tentang bagaimana penerapan Lesson Study dalam Program Micro Teaching dan Lesson Study dalam upaya meningkatkan kompetensi mengajar calon guru (mahasiswa PPL).

 

B.     Lesson Study sebagai Alternatif Pengembangan Kompetensi Calon Guru

 

Mahasiswa LPTK dipersiapkan untuk menjadi guru (terlepas dari aturan baru bahwa guru bisa berasal dari non-keguruan (ilmu murni) dengan menjalani matrikulasi dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama 1 tahun). Sebagai calon guru, mahasiswa LPTK harus menjalani pengalaman sebagai guru baik dalam mata kuliah Micro Teaching maupun dalam Program Pengalaman Lapangan (PPL). Melalui dua mata kuliah ini mahasiswa dibekali dengan pengalaman bagaimana merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan bagaimana mengevaluasi hasil belajar. PPL dilaksanakan dengan menempatkan mahasiswa untuk magang selama  satu semester di sekolah-sekolah untuk memperlajari TUPOKSI guru di sekolah. Dari pengamatan penulis sebagai mantan mahasiswa dan tenaga pengajar, dosen pembimbing dan guru pamong di LPTK ini merasakan bahwa pelaksanaan PPL beberapa tahun terakhir ini boleh dikatakan jauh dari harapan dan cendrung terjadi penurunan secara kualitas pelaksanaan dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Sebagai muara dari kegiatan perkuliahan di kampus, PPL memiliki peran yang sangat sentral dalam mendewasakan mahasiswa sebagai calon guru. Dengan PPL, mereka akan mencoba menyelaraskan antara teori yang telah mereka pelajari bertahun-tahun dengan keadaan lapangan yang kadang-kadang sangat kontras perbedaannya. Dengan PPL mahasiswa mencoba untuk mengembangkan empat komptensi (pedagogis, profesional, sosial dan kepribadian) secara bersama-sama dan dalam dunia nyata (yaitu sekolah). Dengan demikian PPL harus dirancang dengan hati-hati dan komprehensif (bukan sebagai formalitas). Program kegiatan PPL harus jelas dalam segala aspek — syarat pembimbing, pola pembimbingan, persyaratan memprogramkan PPL yang lebih tegas. Hak dan kewajiban guru pamong dan dosen harus jelas dan seimbang. Sebagai sumbangan pikiran, penulis (dosen pembimbing dan guru pamong) mencoba memberikan solusi permasalahan PPL selama ini sehingga  kualitas pelaksanaan PPL di masa mendatang menjadi lebih baik. Tentu sebuah konsep perbaikan akan sia-sia tanpa didukung oleh sumber dana yang memadai. Adalah tugas lembaga untuk mengusahakan ketersediaan dana untuk melaksakan program PPL ini. Adapun pola yang ditawarkan sebagai solusi adalah Pola Lesson Study sebagai sebuah model pembinaan calon guru baik dalam Micro Teaching maupun PPL.

 

 

1. Lesson Study dan MK Micro Teaching

Sebagaimana disampaikan di atas bahwa Lesson Study merupakan model pembinaan tenaga pendidik (guru dan calon guru) secara kolaboratif dan berkelanjutan yang berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Penciptaan komunitas belajar yang saling menguntungkan bagi mahasiswa calon guru perlu dibangun mulai dari kampus. Kebijakan menerapkan PPL dengan pola Lesson Study tidak akan berjalan tanpa diawali dulu dengan pengenalan dan pembiasaan di tingkat kampus. Masing-masing Program Studi memiliki mata kuliah Micro Teaching yang diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan kegiatan PPL di sekolah. Kegiatan Micro Teaching pada masing-masing program studi berjalan sendiri-sendiri dan sama sekali belum pernah ada penyamaan persepsi, padahal semua mahasiswa dari semua program studi mempersiapkan diri untuk menghadapi hal yang sama, yaitu PPL. Perlu dilakukan penyamaan persepsi antara pengelola PPL dengan pengampu mata kuliah Micro Teaching sehingga mata kuliah ini benar-benar bisa mempersiapkan mahasiswa untuk turun ke lapangan.

 

Lesson Study sebagai model pengembangan calon guru dapat diperkenalkan melalui mata kuliah Micro Teaching. Tiga kegiatan pokok Lesson Study yaitu PLAN, DO, dan SEE bisa dilaksanakan sebagai berikut:

1.      Perencanaan (PLAN). Kegiatan ini bisa diawali dengan penugasan mahasiswa untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara individu. RRP tersebut kemudian dinilai dengan IPKG 1 (Instrument Penilaian Kerja Guru) dan diberikan masukan oleh mahasiswa lain dan dikerjakan secara berkelompok (kecil 5-6 orang) sehingga mahasiswa bisa saling memberikan masukan untuk penyempurnaan RPP. Manfaat dari kegiatan ini adalah (a) adanya kerjasama dan terciptanya mutual learning; (b) pembiasaan mahasiswa menilai dan mengomentari hasil karya orang lain; dan (c) dihasilkannya RPP yang sudah siap disajikan dan kegiatan DO.

2.      Pelaksanaan (DO). Setelah memiliki RPP yang sudah disempurnakan, selanjutnya satu persatu mahasiswa tampil dengan waktu yang telah ditentukan oleh dosen (biasanya kemampuan mengajar secara keseluruhan sudah akan kelihatan dalam waktu 30 – 40 menit). Supaya mahasiwa lebih fokus dalam melakukan kegiatan, maka peran mahasiswa dapat dibagi menjadi model 1 orang dan siswanya dibagi dua yaitu setengah menjadi pengamat (harus ditempatkan di bagian belakang kelas) dan sebagian lagi sebagai siswa. Masing-masing pengamat harus dibekali dengan lembar observasi dan lembar penilaian (IPKG 2 – Pelaksanaan Pembelajaran). Perlu kejelasan pada para pengamat tentang aspek yang perlu diamati sehingga diskusi bisa lebih fokus (Instrumen ini harus dimiliki oleh dosen pengampu sebelum melaksanakan pembelajaran). Pelaksanaan dan observasi dapat dilakukan 2-3 mahasiswa sekaligus sebelum dilakukan refleksi secara bersama-sama. Peran sebagai pengamat dan sebagai siswa juga bisa digilir untuk memberikan kesempatan yang sama. Manfaat dari kegiatan ini antara lain (a) mahasiswa model (praktikan) akan berusaha mempersiapkan diri dan tampil dengan baik karena akan dinilai, (b) bagi pengamat, kegiatan ini melatih mahasiswa untuk melakukan observasi dengan baik dan dilakukan secara terus menerus, (c) pengamat juga bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh model (praktikan), (d) semua mahasiswa aktif selama perkuliahan, (e) dosen bisa melakukan penilaian proses dari penampilan dan dari komentar yang dilakukan mahasiswa pada saat menjadi pengamat.

3.      Refleksi (SEE). Pada sesi ini, dosen memimpin diskusi dengan memberikan kesempatan pada mahasiswa yang tampil (model) untuk menyampaikan kesan-kesan selama tampil. Masing-masing pengamat diberikan kesempatan untuk menyampaikan hal-hal positif dari pembelajaran yang dilakukan model diikuti dengan saran-saran perbaikan yang harus disampaikan secara bijak (tidak mengkritik). Mahasiswa yang berperan sebagai siswa juga mendapat kesempatan untuk menyampaikan pendapat dari persepktif sebagai siswa. Manfaat dari kegiatan ini antara lain: (a) membiasakan mahasiswa menyampaikan gagasan, (b) mahasiswa bisa belajar dari mahasiswa lain, (c) mahasiswa belajar menjadi pengamat yang bijak dengan menonjolkan aspek positif dari teman sebagai sebuah pembelajaran (lesson learnt), (d) bagi model kegiatan refleksi ini akan bermanfaat sebagai feedback untuk perbaikan dan membiasakan diri untuk menerima saran dari teman sejawat.

Penerapan Lesson Study dalam mata kuliah Micro Teaching sangat terbuka untuk dilakukan modifikasi dari apa yang selama ini diterapkan dalam pengembangan guru dalam jabatan. Disinilah tuntutan pada dosen pengampu mata kuliah ini berkreasi dan mencari format penerapannya karena faktor situasi (peer-teaching, bukan real teaching). Dengan melibatkan teman sebaya, tentu pusat pengamatannya bukan kepada pembelajaranya tapi mungkin lebih pada dampak dari kegiatan tersebut seandainya diterapkan pada siswa yang sebenarnya. Untuk itu, pembekalan bagi dosen, guru pamong dan mahasiswa tentang berbagai konsep Lesson Study sangat mendesak untuk dilakukan.

 

Kegiatan Lesson Study pada mata kulaih Micro Teaching akan memberikan bekal konsep dan pengalaman kepada mahasiswa dalam penerapan PPL dengan Pola Lesson Study sebagaimana yang mulai akan dicobakan oleh FKIP UNRAM.

 

2. Lesson Study dan PPL

Tugas seorang guru tentu tidak terbatas pada tugas mengajar tetapi juga sebagai adminsitrasi. Dalam kegiatan PPL semua harus dilakukan oleh mahasiswa. Dalam tulisan ini, akan dibatasi pada tugas guru sebagai pengajar. Dalam setiap sekolah pasti ditempatkan lebih dari satu mahasiswa per program studi dalam satu sekolah akan ada 7-10 mahasiswa dari berbagai program studi.

 

Pemikiran penerapan Lesson Study pada program PPL FKIP UNRAM tentu akan membawa dampak pada perencanaan PPL. Kalau Lesson Study diterapkan maka jumlah program studi dalam satu sekolah perlu dibatasi tetapi jumlah mahasiswa per program studi bisa ditambah dan penempatan bisa didasarkan pada rumpun bidang studi (Bahasa, MIPA, Sosial, dll.). Penambahan jumlah mahasiswa dari satu PS akan membawa dampak pada pelibatan jumlah guru pamong. Semua itu memerlukan perencanaan yang lebih matang, yang termasuk di dalamnya bagaimana membekali guru pamong dan dosen pembimbing dengan pengetahuan Lesson Study.

 

Pada tingkat pelaksanaan PPL, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana mekanisme penerapan pola Lesson Study dalam pembinaan mahasiswa calon guru ini di sekolah.

 

Sebagaimana disampaikakn di atas bahwa penerapan Lesson Study sebagai upaya pembinaan guru dan calon guru bisa diterjemahkan dengan melakukan modifikasi atau penyesuaian tergantung dari situasi. Misalnya,  pola Lesson Study pernah diterapkan dalam Program PHK PGSD-B FKIP UNRAM untuk mendesiminasikan hasil PTK yang dilakukan oleh dosen FKIP UNRAM dan guru SD di Kota Mataram di dua sekolah yaitu SDN 7 Mataram dan SDN 1 Mataram. Panitia PHK memilih kegiatan Lesson Study sebagai kegiatan desiminasi daripada melakukan seminar untuk mendesiminasikan hasil PTK. Dalam hal ini Lesson Study tidak diterapkan secara utuh karena bagian PLAN sudah dikerjakan oleh peneliti,  peserta Lesson Study hanya melakukan DO dan SEE (Laporan Kegiatan PHK PGSD-B FKIP UNRAM, 2009).

 

Untuk PPL, apakah Lesson Study ini akan diterapkan utuh atau apakah ada modifikasi yang harus dilakukan? Semua itu kembali pada UPPL FKIP UNRAM dalam mengadopsi. Berikut ini adalah beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan dalam PPL.

1.      Perencanaan (PLAN). Kekhawatiran sekolah adalah ketika mahasiswa PPL membawa program dari kampus akan mengganggu kontinuitas dari kegiatan guru. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena mahasiswa akan mengikuti program sekolah. Apa yang diajarkan oleh guru di sekolah, itulah yang menjadi materi praktik mahasiswa PPL. Terkait dengan perencanaan (PLAN), mahasiswa perlu dilatih kemampuannya dengan memberikan tanggung jawab membuat perencanaan sendiri dibimbing oleh guru pamong dan dosen pembimbing. Dimana letak perencanaan bersama sebagaimana yang diharapkan dalam Lesson Study? Setelah mahasiswa menghasilkan RPP secara individu, perlu diadakan diskusi antarmahasiswa dengan melakukan sharing terhadap perencanaan masing-masing. Diharapkan mahasiswa lain untuk memberikan feedback untuk perbaikan. Dampak yang diharapkan dari kegiatan ini sama seperti pada kegiatan PLAN untuk Micro teaching di atas.

2.      Pelaksanaan (DO). Terkait dengan pelaksanaan pembelajaran dan observasi, pertanyaan yang dijawab adalah; “Apakah nyaman seorang praktikan diamati oleh banyak orang pada pengalaman pertama di depan kelas?” kalau jawabannya “Tidak” maka skenario atau mekanisme pelaksanaannya harus diubah. Kegiatan PPL harus diawali dengan (i) pengamatan terhadap model (guru pamong). Guru pamong harus memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan pengamatan terhadap pembelajarannya. Pengamatan dilakukan di awal berada di sekolah (bersamaan dengan penyusunan RPP oleh mahasiswa (kegiatan PLAN). Dari pengamatan tersebut mahasiswa akan memiliki bekal untuk melakukan inovasi pembelajaran; (ii) untuk melatih mental dan menambah pengalaman, mahasiswa harus diberikan kesempatan untuk mengajar mandiri terlebih dahulu (latihan). Dari kegiatan ini, mahasiswa dapat merefleksikan diri tentang kelebihan dan kekurangannya. Latihan mandiri juga bisa dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu praktikan secara bersamaan di kelas (satu sebagai pengajar dan satu lagi sebagai pengamat dan pengontrol kelas); (iii) Dengan persiapan mental yang telah cukup, kegiatan DO dan OBSERVE yang sebenarnya bisa dilakukan. Mahasiswa sebagai model siap mengimplementasikan perencanaannya yang diobservasi oleh mahasiswa lain, guru pamong dan dosen pembimbing yang telah dilengkapi dengan lembar observasi dan lembar penilaian. Dampak dari kegiatan ini juga sama dengan dampak pada pelaksanaan Micro Teaching.

3.      Refleksi (SEE). Kegiatan ini dilakukan di ruang rapat yang melibatkan dosen pembimbing, guru pamong, dan mahasiswa model (praktikan) dan pengamat dan dipimpin oleh seorang moderator yang ditunjuk oleh forum. Mahasiswa yang bertugas sebagai guru model harus diberikan kesempatan untuk merefleksikan dirinya dalam pembelajaran, diikuti oleh pengamat dari mahasiswa menyampaikan lesson learnt dari pengamatannya. Guru dan dosen mencoba untuk memberikan feedback tentang apa yang sudah dicapai oleh mahasiswa dan apa yang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki. Manfaat dari kegiatan ini antara lain: (a) membiasakan mahasiswa menyampaikan gagasan, (b) mahasiswa bisa belajar dari mahasiswa lain, (c) mahasiswa belajar menjadi pengamat yang bijak dengan menonjolkan aspek positif dari teman sebagai sebuah pembelajaran (lesson learnt), (d) bagi model kegiatan refleksi ini akan bermanfaat sebagai feedback untuk perbaikan dan membiasakan diri untuk menerima saran dari teman sejawat.

 

Pertanyaan yang muncul dari pola ini adalah: Apakah kita sudah siap dengan petunjuk atau panduannya? Apakah mahasiswa, guru, dan dosen memiliki pengetahuan tentang Lesson Study? Apakah pengelola sudah siap dengan segala konsekuensi yang diakibatkan oleh keseriusan guru dan dosen dalam melaksanakan kegiatan ini (financial support)? Inilah yang perlu dipikirkan oleh pengelola. Sebagai sebuah konsep, Lesson Study sangat tepat diterapkan untuk meningkatkan kompetensi calon guru. Tinggal sekarang dipikirkan adalah bagaimana kesiapan pengelola untuk mewujudkan ini menjadi sebuah program, sehingga PPL tidak sekadar formalitas berada di sekolah dengan kegiatan yang tidak jelas karena dukungan dana yang minim.

 

 

III. PENUTUP

Lesson Study bukan model pembelajaran melainkan suatu model pengembangan profesi guru melalui kajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan serta mengusung prinsip-prinsip kolegalitas dan saling belajar untuk membangun komunitas belajar (Hendayana, dkk., 2006). Sebagai sebuah model pengembangan, Lesson Study banyak diterapkan oleh guru di Indonesia tetapi tata cara pelaksanaannya telah mengalami perubahan sesuai dengan konteks dan situasi.

 

Lesson Study juga sangat potensial diterapkan pada Program Pengalaman Lapangan (PPL) untuk mahasiswa LPTK, tetapi perlu panduan pelaksanaan yang jelas dan operasional bagi mahasiswa, guru, dosen, dan sekolah. Ide penerapan Lesson Study pada PPL perlu diawali dengan penanaman konsep Lesson Study pada mahasiswa melalui mata kuliah Micro Teaching sehingga mereka benar-benar siap untuk melaksanakan PPL dengan pola Lesson Study di sekolah. Guru pamong dan dosen pembimbing juga harus dibekali dengan kesamaan persepsi tentang Lesson Study.

 

Sebagai sebuah konsep, Lesson Study sangat bagus untuk diterapkan pada kedua mata kuliah tersebut, tetapi perlu kesiapan yang matang terkait perencanaan PPL dengan Pola Lesson Study ini dan kesiapan finasial untuk mendukung program ini. Kalau tidak didukung dengan kedua hal tadi, konsep hanyalah teori yang pelaksanaan akan kembali seperti dulu.

 

 

 

 

====================

Terima kasih penulis sampaikan kepada reviewer jurnal ini atas segala saran perbaikannya.

 

 

REFERENSI

 

Friedkin, Shelly, 2005. Overview of Lesson Study. online http://www.lessonresearch.net, diakses tanggal10 Oktober 2010.

Hendayana, Sumar, dkk., 2006. Lesson Study: Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press.

Mahmudi, Ali, 2009. “Mengembangkan Kompetensi Guru melalui Lesson Study”, Forum Kependidikan FKIP UNSRI, Vol. 28, No. 2, hal. 84-89.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan  (SNP).

PHK PGSD_B FKIP UNRAM, 2009. Laporan Kegiatan PHK PGSD-B FKIP UNRAM. Mataram: PGSD FKIP UNRAM

Sudrajat, Ahmad, 2008. Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran” online http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/ diakses tanggal 10 Oktober 2010

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tetang Guru dan Dosen.

Wardhani, IGK dan Suparno, 1994. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Jakarta: Depdikbud.

Wikipedia, 2007. Lesson Study. online http://en.wikipedia.org/wiki diakses tanggal 10 Oktober 2010

Yoshida, Makoto, 1999. Sekilas Tentang Pelaksanaan Lesson Study di Jepang. Terjemahan Muchlas Yusak, untuk In-house Training Lesson Study, LPMP jawa Tengah, 9 – 11 Maret 2007.

 

 


[1] Dosen Pendidkan Bahasa Inggris FKIP UNRAM, Dosen Pembimbing PPL

[2] Guru Bahasa Inggris SMPN 14 Mataram, Guru Pamong PPL

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: